Begini, Islam itu mempunyai kaidah2 dalam semua permasalahan, termasuk masalah aqidah. Kaidah2 itu dibangun di atas nash-nash al-quran, hadits2 nabi dan atsar2 para sahabat yang derajatnya shohih. Salah satu kaidahnya adalah yang menyangkut tentang keyakinan dalam doa. Mengenai masalah ini Allah berfirman:
"..Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau pun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu .." Faathir 13-14
Maka orang-orang kafir yang berdoa kepada selain Allah itu tidak akan dapat dikabulkan doanya, dan doa mereka tidaklah membawa kebaikan sedikit pun (dalam masalah ini: membuat kristal air yang indah). Inilah kaidahnya. Bahkan doa mereka dimurkai oleh Allah karena Allah tidak ridho dengan kesyirikan. dan syirik adalah dosa yang paling besar, kalau seseorang mati dengan membawa dosa syirik, maka dia akan kekal di neraka selama-lamanya. Na'udzubillah.
Keyakinan inilah yang harus kita bangun dalam dada kita, sehingga kita bisa mengingkari dalam hati kita tentang "pembuktian sains" mereka. Kita nyatakan dengan lantang: Tidak ada korelasi antara doa mereka dengan bentuk kristal air yang indah. Ini yang harus kita yakini. Pun memang kalau kristal air itu indah, itu bukan karena doa mereka, namun semata karena kehendak Allah dan juga sebagai fitnah (ujian) bagi manusia. Allah berfirman:
"Kullu nafsin dzaiqotul maut, wanablukum bis-syarri wal khoiri fitnah, wa ilaina turja'un"
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan" Al-Anbiyaa 35
* * *
Dan tentang hadits nabi : "tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina",
Hadits itu mahsyur dan sering kita dengar memang, tapi hadits ini derajatnya dhoif (lemah). Dan sudah menjadi kaidah dalam Islam, bahwa hadits-hadits yang derajatnya dhoif atau bahkan maudhu (palsu) tidak dapat disandarkan kepada Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam (tidak boleh diyakini itu perkataan/perbuatan beliau). Dan hadits-hadits yang derajatnya dhoif/maudhu tidak dapat dijadikan hujjah atau landasan agama.
Berikut artikel ringkas tentang derajat hadits tersebut:
* * *
"Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina"
Riwayat ini batil. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/206, Al-Khatib dalam At Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang kesemuanya dengan sanad dari Al-Hasan bin Athiyah, dari Abu Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik radiallahu ‘anhu. Kemudian semuanya menambahkan lafazh “fainna thalabul ilmi faridatun ‘ala kulli muslimin. Ibnu Adi berkata: “Tambahan kata "walaw bish Shin (sekalipun sampai ke negeri Cina" kami tidak mengenalinya kecuali hanya datang dari Al-Hasan bin Athiyahâ€. Begitu pula pernyataan Al-Khatib dalam kitab Tarikh seperti dikutip Ibnul Muhib dalam Al-Fawaid.
Kelemahan riwayat ini terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhaditsin sebagai perawi sanad yang sangat dhaif, bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan mungkar riwayatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang Abu Atikah ini.
Ringkasnya, susunan dari hadits diatas adalah sangat dhaif atau bahkan sampai ke derajat batil. Saya kira kebenaran ada pada ucapan Ibnu Hibban dan Ibnul Jauzi yang berkata bahwa hadits di atas tidak ada sanadnya yang baik atau bahkan dianggap baik sampai derajat dapat dikuatkan atau saling menguatkan antara satu sanad dengan sanad yang lainnya.
Hadits ke 416 dari kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Al-Albani
Edisi terjemahan: Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu Jilid 1, cetakan Gema Insani Press
Oleh sebab itu, kita tidak boleh berkeyakinan bahwa menuntut ilmu ke Cina itu disarankan oleh Nabi. Lagipula, memang ada ilmu apa di China? karena setiap lafadz "ilmu" dalam al-quran dan hadits2 nabi, bermakna ilmu syar'i (agama), bukan ilmu-ilmu keduniaan, sebagaimana sabda nabi:
"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan menjadikannya paham (memiliki ilmu) tentang agamanya" (Hadits shohih, riwayat Ahmad, Bukhori, Muslim)
Imam al-Auza'i (wafat 157H) berkata: Ilmu adalah apa yang berasal dari para sahabat Nabi, adapun yang datang bukan dari seseorang dari mereka, maka itu bukan ilmu."
* * *
Lalu, tentang bagaimana kita menggali dan memahami ayat-ayat al-quran, tentu tidaklah bisa secara serampangan. Ada kaidahnya, yaitu harus sesuai dengan apa yang telah nabi jelaskan mengenai ayat tersebut.. Allah berfirman:
"Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menjelaskan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka" An-Nahl 44
Yang bisa dipetik dari ayat ini, bahwasanya al-quran tidaklah bisa berdiri sendiri. tidak bisa seorang itu membaca ayat, lalu dia menafsirkan sesuai kehendaknya. namun semua harus ditafsirkan sesuai yang dimaksud oleh rasulullah, karena rasulullah diberi wewenang oleh Allah. lagi pula, apa yang rasulullah jelaskan, pada hakikatnya adalah wahyu dari Allah. Allah berfirman mengenai rasulullah:
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." An-Najm 3-4
Dan dalam memahami al-quran dan hadits nabi ada kaidahnya juga. Penyebab banyaknya orang menyimpang atau tersesat saat ini adalah karena tidak memahami agama ini secara utuh. Mereka membaca satu dua ayat, lalu mengatakan ini maksudnya begini, itu maksudnya begitu. Membaca satu dua hadits, lalu berkata ini maksudnya begini, itu begitu. Mereka memahami ayat dan hadits dengan akal mereka semata. Bahkan banyak ustadz2 yang begini. Ini berbahaya. mengapa? karena akal setiap manusia berbeda-beda, bisa jadi menurut si A pemahamannya begini, menurut si B begitu. padahal salah.
Lantas, dengan apa kita memahami al-quran dan hadits nabi (as-sunnah)? kita memahaminya sebagaimana para sahabat nabi dulu memahaminya. Inilah yang telah hilang dari dada-dada kaum muslimin kebanyakan. Kalau ditanya, memang kenapa harus sesuai dengan pemahaman para sahabat? karena para sahabat adalah murid-murid Rasulullah yang pertama. Rasulullah mengajari mereka secara langsung dan setiap kesalahan yang mereka buat, rasulullah mengoreksinya. Maka merekalah orang-orang yang paling paham tentang al-quran dan as-sunnah. Dan merekalah manusia-manusia terbaik yang telah diridhoi oleh Allah dan Allah memerintahkan kita untuk mengikuti pemahaman mereka. Allah berfirman tentang mereka:
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." At-Taubah 100
Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan 2 kelompok kaum muslimin yang Allah ridhoi. kelompok pertama adalah muhajirin dan anshor. merekalah para sahabat nabi. dan kelompok kedua adalah orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. dan inilah bagian selain mereka (bagian kita). dan yang dimaksud mengikuti mereka adalah mengikuti pemahaman dan amalan mereka dalam beragama. maka untuk mencapai ridho Allah, kita harus dengan mengikuti pemahaman mereka dalam beragama.
Inilah yang tidak diketahui oleh banyak kaum muslimin. oleh karena itu banyak dari mereka yang menyimpang karena salah kaprah dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits nabi yang mulia. kita bisa lihat ada orang-orang pendusta yang mengaku dirinya sebagai nabi, bahkan mengaku sebagai Jibril, ada juga yang nge-bom sana sini mencemarkan nama Islam, ada juga membuat kelompok-kelompok atau aliran-aliran dan membaiat pemimpinnya, harus membayar dosa, mengkafirkan orang tua, mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dan lain sebagainya. Ini tidak lain karena mereka tidak memahami ayat-ayat Allah dan hadits-hadits nabi dengan pemahaman yang benar.
Maka flow chart dalam memahami agama ini begini: al-quran --> (dijelaskan oleh rasulullah dalam) hadits-hadits nabi yg shohih --> (dipahami & dipraktekan sesuai dengan) pemahaman para sahabat
Inilah kaidah dasar memahami agama islam. Dengan kaidah ini kita bisa membedakan, mana yang haq dan mana yang batil, sekalipun itu keluar dari seorang ustadz yang kita hormati. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah dalam setiap rokaat di sholat kita:
"Ihdina ash-shirathal mustaqim, shiratalladzina an'amta 'alaihim" (Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang engkau beri nikmat) Al Fatihah 6-7
Allah menjelaskan tentang makna jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh-Nya dalam firmannya:
"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." An Nisaa' 69
Dan yang dimaksud dengan para shiddiqiin, syuhada, dan sholihin pertama kali adalah para sahabat nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Semoga kita termasuk orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan semoga Allah bukakan hati kita untuk bisa mempelajari ilmu syar'i dengan benar dan mengamalkannya. Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga" (Hadits shohih riwayat muslim, ahmad, abu dawud dan lainnya)
* * *
Mudah-mudahan bisa dipahami. Dan gw ga bermaksud menggurui atau mendebat atau apa. Tapi ini sebagai nasehat, wujud rasa sayang dan kepedulian kepada sesama muslim. Allah berfirman:
"Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman" Adz-Dzaariyat 55
Mudah-mudahan ini bisa bermanfaat buat echa dan buat gw jg. Waffaqonallah (semoga Allah memberi kita taufiq)
Alfi
1 komentar:
Alhamdulillah pencerahan yang baik!
Poskan Komentar